.

.

.

Kelak, Kita akan menyimpulkan bahwa kompleksitas demokrasi ini memerlukan akumulasi kearifan…bukan tangan besi atau tirani…

Kearifan itu buah dari pengertian dan pemahaman…kebodohan lah yang melahirkan kepanikan…seperti sekarang…

.

Tidak ada niat kita mengganggu pemerintah tapi pemerintah sendiri yang panik sendiri. Gamang dalam semua keputusan.

.

Dan kepanikan yang terakhir ini paling konyol..mengkhawatirkan kebebasan yang merupakan prestasi kolektif bangsa kita…

.

Panik dengan social media membuat kita setara dengan negara2 totaliter yang sampai hari ini masih melarangnya…

.

Misalnya soal Telegram… Saya bingung alasannya apa? Kalau kejahatan ya orang jahat ya jahat aja…di mana pun dia berbuat jahat..

.

Apa betul hanya telegram dipakai berbuah jahat? Semua media komunikasi netral. Orang jahat dipakai berbuat jahat.. Ustad dipakai dakwah…

.

Katanya ada ajakan bikin bom… Lah Bikin bom itu ilmiah ada dalam buku dan laboratorium kimia…saya SMP sudah diajar bikin reaksi kimia.

.

Kalau teroris bikin bom bukan buku dan media yang dilarang…bahan baku diperketat…pembeliannya harus pakai ijin ketat…

.

Bagaimana kalau masalahnya orang menjual komponen peledak pakai e-commerc? Apakah aplikasi toko ecommerc mau dilarang?

.

Tapi ini semua soal kepanikan akibat ketiadaan pengetahuan yang cukup tentang dunia kita yang makin bebas merdeka..

.

Dengan segala maaf.. Kepanikan pemerintah adalah akar semua ini.. dan itu bersumber dari pengetahuan tentang situasi..

#DemokrasiKita terancam oleh rendahnya pengetahuan dan kapasitas.mengelola.keadaan..

.

Waspadalah.. #DemokrasiKita Dalam bahaya…

.

~(https://mobile.twitter.com/Fahrihamzah/status/886240073582129154#tweet_8862400735821291

Iklan