.
.

.

.

Fahri Hamzah @Fahrihamzah19/01/2017 09:22:54 WIB

#UmmatIslamKini #MuslimToday twitter.com/republikaonlin…

2017-01-20_062227

.

Kenapa banyak tokoh2 utama ormas Islam dan ummat Islam punya pandangan berjarak dengan negara?

Dan perasaan diperlakukan tidak adil, tertekan dan diabaikan adalah perasaan umum Yg ada.

Ini ada buku bagus. Membaca perasaan dan emosi bangsa2 di dunia sekarang. #MuslimToday pic.twitter.com/7BIQQwBGgX

.

.

Hari ini digambarkan bahwa di negara muslim khususnya di timur tengah ada perasaan Yg diungkap sebagian ulama.

Kita mau terima atau tidak, sebagai ummat maka perasaan itu menyerbu masuk kepada banyak orang.

Dan ketika ia menjadi perasaan yang massif bahkan berkumpul menjadi kerumunan jutaan orang apakah tetap mau diabaikan?

Mungkin para intel dan Penasehat politik Presiden di negeri ini juga Petinggi tidak sempat baca buku itu.

.

Dan itulah mungkin yang membuat ada semacam jarak yang semakin menganga antara kabinet ini dengan ummat Islam.

Dan sikap penegak hukum yang semakin sepihak, menambah runyam perasaan, hancur remuk dan berbahaya.

Mungkin para pejabat itu tetap akan melaporkan ke pada bosnya, “tenang Aja Pak ini soal segelintir orang!”.

Lalu setelah itu, Presiden bertemu dengan 2-3 tokoh dan ormas..dan mereka bilang, “beres Pak!”.

.

Memang cara paling efektif menyenangkan hati Bos adalah dengan membohonginya seolah gak ada masalah.

Gejala #UmmatIslam ini dinilai dengan observasi sederhana. Teori entah dari mana.

Tapi saya bisa melacaknya dari peristiwa #9/11 yang melanda menara kembar WTC di Manhattan.

Sejak itu, #UmmatIslam dibaca dengan pandangan dan teori struktur seolah mereka hidup dalam komando fisik.

Memang gejalanya begitu, seolah ada komando tapi siapa yang pegang komando?

Seperti orang masuk masjid, ada jama’ah dia sholat, habis sholat di pergi. Dia tidak tahu siapa Yg Imam tadi.

.

Masjid bukan organisasi struktural, masjid adalah fasilitas komunitas.

Tapi kampanye ini massif dan dibuat seperti benar. Struktur dibangun sejak perang dingin USA-USSR.

Intelijen Amerika secara resmi mengakui pembentukan struktur Mujahidin di seluruh dunia.

Lalu dikirim untuk perang Asia tengah dan khususnya Afghanistan.

Setelah perang usai dan sebelumnya Soviet runtuh. Pasukan buatan dikirim kembali ke negaranya.

Sebagai #UmmatIslam dan dalam konsep Islam, begitu tak ada perang maka hidup kembali mencari makan.

.

Tiba-tiba perang berlanjut. Ini perang lebih panjang dan lawan lebih mengambang.

Dan alumni perang digarap ulang. Sadar atau tidak kepada mereka struktur disematkan.

Mulai dari nama; Taliban yang lokal, sampai Al-Qaeda, Jama’ah Islamiah, ISIS dan seterusnya sampai kapan..

Bom-bom struktural ini dengan detonatornya terpasang di seluruh dunia Islam.

.

Inilah kesalahan mereka, membaca #UmmatIslam dengan teori struktural. Seolah semua dalam komando dan siap perang.

Kalau ada struktur dalam Islam, maka Imam-nya yang resmi adalah AL-Quran.

Besar dugaan bahwa para penganut teori struktural di kalangan intel, penegak hukum dan pejabat negara di Indonesia banyak.

Mereka terus diyakinkan untuk mencurigai struktur yang terbentuk di kalangan #UmmatIslam #MuslimToday

.

Sampai di sini, saya ingin mengatakan sukses story kita selama transisi ini memang luar biasa.

Sebab justru setelah perang Afghanistan selesai, Pemerintah orde baru melunak kepada ummat Islam.

Pak Harto pergi haji, koran dan majalah Islam diijinkan, ICMI diresmikan dan iklim persahabatan dengan ABRI menyegarkan.

Maka, justru ketika mahasiswa tahun 1998 meminta Pak Harto mundur, manajemen transisi mulus sekali.

Sebagai pimpinan gerakan mahasiswa, saya juga aktif dihubungi oleh para petinggi militer.

.

Dan kita harus berterima kasih karena militer bukan saja menolak kekerasan tapi membuka jalan bagi demokrasi.

Apapun, hormat saya kepada Pak @wiranto1947 ada dalam perspektif itu. Dia menolak melanjutkan rezim militer

Maka, dengan segala yang kita miliki sekarang, manajemen transisi kita adalah yang terbaik. Demokrasi kita makin mapan.

Bayangkan kalau waktu itu tentara ngotot dan acara di lapangan Monas dijadikan Tiananmen. Darah!

.

Malam itu, saya bersama beberapa senior berkeliling Monas persiapan aksi #HKN20Mei1999 .#MuslimToday

Persis seperti pertiwi 4/11 dan 2/12 hari itu kami merencanakan sejuta massa. Merayakan Hari Kebangkitan Nasional.

Tentu ABRI disuruh menggagalkan dan di tengah jalan sebuah telepon berbunyi, seorang jenderal minta bicara ke Pak Amien Rais.

Nadanya bUkan ancaman, tetapi pemberitahuan bahwa tentara tidak akan diam.

Maka, menjelang subuh 20 Mei 1998 saya dan Pak Amien Mengadakan konferensi pers pembatalan acara.

Saya tertidur di depan kamera. Tapi Alhamdulillah acara batal dan pertumpahan darah kita hindari.

.

Itulah sekilas cerita. Yang pasti tidak lebih kompleks dari yang sebenarnya.

Tetapi sekarang Periksa apa yang terjadi di Timur tengah pasca #ArabSpring#MuslimToday

Panjang ceritanya tapi intinya adalah kegagalan mengelola perasaan #UmmatIslam. #MuslimToday

Lalu perasaan itu bersekutu bersama menyusup masuk tentara dan tokoh agama. Maka perang saudara.

Itulah kelemahan di timur tengah ketika agama dan negara tidak punya jembatan.

.

Maka janganrusak jembatan itu di Indonesia. Waspadalah intelijen negara, Polri dan Tentara.

Perbanyaklah belajar tentang peta #UmmatIslam dan sejarah bangsa. Jangan mau diadudomba.

Berilah ketenangan, berilah hiburan apalagi di tengah negara yang belum sepenuhnya bisa beri kesejahteraan dan keadilan.

Rawatlah perasaan positif bangsa ini kepada sesama dan kepada agama. Jangan mentang-mentang.

Karena kita saling membutuhkan. Negara ini besar dan kita tidak bisa sendirian. Sekian. #MuslimToday

* * * * *

.

Iklan