.

.

.

.

Inilah isi tesis penelitian Habib Rizieq Shihab di tahun 2007 tentang Pancasila, yang baru-baru ini dipermasalahkan melalui pihak Kepolisian: 

“…Pancasila dalam ketatanegaraan Republik Indonesia adalah Lima Dasar Negara, iaitu : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

.

Tesis ini bertujuan menguji hipotesis tentang benar adanya ”keyakinan” yang menyatakan bahawa di Indonesia yang berdasarkan Pancasila mustahil dilaksanakan Syariah Islam.

Oleh sebab itu, batasan kajian hanya tentang Penerapan Syariah Islam di Indonesia secara konstitusional (pelembagaan hukum negara) setelah kemerdekaan Indonesia sepanjang 62 tahun, dari tahun 1945 sampai dengan tahun 2007.

.

Kajian ini menggunakan 3 (tiga) metode, iaitu :

Pertama, Metode Pengumpulan Data yang memiliki 3 (tiga) cara, iaitu : Kajian Perpustakaan, Kajian Sejarah, dan Wawancara.

Kedua, Metode Analisis Data yang juga memiliki 3 (tiga) cara, iaitu : Analisis Deskriptif, Analisis Sejarah, dan Perbandingan.

Ketiga, Metode Pengambilan Kesimpulan yang memilki 2 (dua) cara, iaitu : Induksi dan Deduksi.

.

Sejak Republik Indonesia diproklamirkan telah terjadi tarik menarik antara kelompok Islam dengan kelompok Sekuler dalam menafsirkan Pancasila.

Percanggahan politik antara kedua-dua kubu hingga waktu ini terus berlangsung.

Kelompok Sekuler yang Islamophobia selalu menolak pemberlakuan Syariah Islam di Indonesia dengan berbagai macam cara seperti mengagungkan Pancasila secara berlebih-lebihan, sehingga mereka selalu meletakkan Islam berhadap-hadapan dengan Pancasila.

.

Selama ini, tafsiran Pancasila selalu dipaksa untuk mengikuti kemahuan penguasa. Pancasila hanya dijadikan sebagai alat politik untuk menguatkan kekuasaan.

Di masa kekuasaan rejim Soekarno, yang sangat mengagungkan Karl Marx, Pancasila dijadikan alat politik untuk melindungi fahaman Marxisme, Komunisme dan Sosialisme.

Di masa kekuasaan rejim Soeharto, yang sangat terkenal dengan Kejawen nya, yaitu mitos yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa, penafsiran Pancasila selalu dikait-kaitkan dengan kepercayaan nenek moyang bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa Kuno.

.

Dan kini di masa Reformasi, ketika rakyat Indonesia sedang dilanda euforia kebebasan, maka tafsir Pancasila pun mulai diarahkan untuk mengikuti arus pemikiran liberal, sehingga berbagai bentuk kebebasan tanpa batas dan pencampur-adukan aqidah mendapat peluang untuk berkembang dengan pesat di bawah payung Pancasila atas nama Hak Asasi Manusia (HAM).

Itulah sebabnya, banyak dari kalangan Islam terus melakukan perlawanan terhadap penafsiran-penafsiran subjektif yang politis terhadap Pancasila.

Mereka (kaum Islamis, -red) tidak anti Pancasila, tapi menolak segala bentuk distorsi (penyelewengan/penyimpangan) dari arti dan tujuan Pancasila yang sebenarnya.

.

Melalui perjuangan gigih, akhirnya mereka berhasil meloloskan seperangkat perundang-undangan yang bernafaskan Syariah Islam di Indonesia, seperti Kompilasi Hukum Islam dalam bidang peradilan dan Kompilasi Hukum Perbankan Islam dalam bidang ekonomi.

Akhirnya, tesis ini mengambil kesimpulan bahawasanya Penerapan Syariah Islam di Indonesia tidak mustahil dapat dijalankan dengan baik berdasarkan kepada pemahaman yang benar terhadap makna Pancasila sebagai Dasar Negara dan sumber pelembagaan hukum di Republik Indonesia…”

.

Muatan Tesis selengkapnya bisa dilihat di Pengaruh pancasila terhadap penerapan syariah Islam di Indonesia

.

Sumber : Risalah TV, Students Repo

.

.

Iklan