.

.

1111111-1-696x365

Lingkarannews.com Jakarta-

.

Istilah Revolusi Mental pertama kali dipopulerkan oleh Bapak Sosialis-Komunis Dunia yg bernama Karl Marx, dimana pemikirannya sangat banyak dipengaruhi oleh Filosofis Atheis Young Hegelian yg sangat terkenal di Berlin, Bahkan Karl Marx muda waktu itu aktif di perkumpulan Pemuda Hegelian yg merupakan kelompok Ekstrim kiri anti Agama yg beranggotakan para Dosen Muda dan pemuda ekstrim kiri.

Karl Marx menggunakan istilah ‘revolusi mental’ dalam satu bukunya “Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte” yang terbit tahun 1869. Revolusi mental juga menjadi tujuan dari “May Four Enlightenment Movement” (Gerakan 4 Mei, yang menjadi perlawanan rakyat pertama untuk menentang kekuasaan kekaisaran) di China 1919. Gerakan itu, diprakarsai Chen Duxui, pendiri Partai Komunis Cina (PKC).

Istilah Revolusi Mental ini dibuat untuk program Cuci Otak dalam pengembangan faham Sosialis-Komunis dikawasan eropa yg kapitalis, karena agama yg dogmatis dianggap sebagai penghambat dalam pengembangan faham Komunis.

Di Indonesia istilah Revolusi Mental, istilah ini mulai dipakai oleh seorang pemuda asal Belitung yang bernama Ahmad Aidit anak dari Abdullah Aidit dan kemudian mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit ( DN AIDIT )

Ketika ayahnya bertanya kenapa namamu diganti ? DN Aidit menjawab saatnya Revolusi Mental dimulai dengan mengganti hal-hal yg akan menghambat pergerakan, termasuk nama Ahmad yang berbau agama harus dibuang.

Setelah DN Aidit terpilih jadi ketua PKI, dia sukses menerapkan istilah Revolusi Mental kepada para Kader PKI, dan ormas-ormasnya PKI lainnya seperti PEMUDA RAKYAT, BARISAN TANI INDONESIA, GERWANI , SOBSI DAN LEKRA yang dianggap simbol perlawanan kepada kaum Feodalis

Revolusi Mental digunakan untuk menghapuskan sesuatu berbau agama pada waktu itu, seperti yang dilakukan oleh DN Aidit kepada kader PKI dengan doktrin doktrin yang mewajibkan untuk menghilangkan hal-hal berbau agama dari lingkungan partai komunis Indonesia

Doktrin doktrin yang selalu dibawa oleh DN Aidit pada setiap orasinya di depan para kader PKI dengan tujuan agar gerakan revolusi mental menjadi nilai perjuangan bersama didalam tubuh PKI pada saat itu, hingga akhirnya pemberontakkan tahun 1965 pun dapat terjadi

Menjadikan issu revolusi mental sebagai doktrin hingga akhirnya makar pun bisa terjadi karena memandang negara harus dikuasai agar paham komunisme bisa berkuasa di negeri tercinta ini

Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar didunia, hingga akhirnya teori klasik pun dipakai “ingin menguasai Indonesia? hancurkanlah pemahaman Islamis dikaum pemudanya (santri santri ponpes) atau perlu tangkap dan buru lah ulama dan pemimpin agama Islam dimanapun berada”, teori klasik inilah yang dipakai PKI

Dengan tentunya menyingkirkan pertama kali adalah kekuatan umat Islam dengan pembakaran pondok pondok pesantren, pembantaian dan pembunuhan ulama ulama kharismatik

Menjadikan kekuatan umat islam sebagai musuh pertama yang harus dihancurkan, Kaum komunis memandang NKRI bisa merdeka dan bersatu hingga menjadi negara adalah berkat kekuatan umat Islam yang selalu menjaganya selama ini

Maka agenda penghancuran pertama kali adalah pusat pusat pendidikan Islam serta pemimpin Islam Indonesia yang dianggap musuh paling membahayakan bagi PKI

Sejarah mencatat, Islam adalah musuh besar bagi kaum komunis karena alasan konsep ketuhanan

Sudah sejak Pemberontakan PKI dilakukan di negeri ini, pemberontakkan tahun 1926, pemberontakkan tahun 1948 hingga pada pemberontakan tahun 1965, umat Islam lah yang paling banyak menjadi korban dan menjadi kekuataan  yang harus dihancurkan oleh PKI

jadi logikamu dimana bung, ketika DN Aidit pencentus Revolusi Mental justru menjadi biang makar di negeri ini?

Adityawarman @aditnamasaya

Logika Makarmu Dimana Bung, DN Aidit Kampanye Revolusi Mental Malah Makar Kepada Republik ini

.

.

Iklan